Fraksi Demokrat DPRD Kota Kediri

Ketua Fraksi : Yudi Ayubchan, SH
Anggota : 1. Dra. Nuraida
2. Erita Dewi
Free Layouts for MySpace

I made my layout with the Myspace Background Maker. Get myspace layouts, graphics, and flash toys at pYzam.

Minggu, 28 Februari 2010

Anggaran Jamas DPRD Terganjal SK Wali Kota

01 March 2010
Kediri(kedirijaya.com) - Anggaran pendamping Jaring Aspirasi Masyarakat (Jamas) DPRD Kota Kediri sebesar Rp 4,5 miliar hingga saat ini belum bisa dicairkan. Pasalnya masih terganjal belum turunnya Surat Keputusan (SK) wali kota
“Untuk Jamas, kita masih menunggu perwali-nya turun,” kata anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Kediri Nur Aida.
Menurut politisi Partai Demokrat ini, anggaran Jamas dirasa sangatlah diperlukan, mengingat disamping untuk pengabdian kepada masyarakat, juga untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, karena dia paham betul, bisa duduk di kursi DPRD juga dikarenakan atas keinginan masyarakat. “Anggaran jamas sangatlah diperlukan, sebagai wujud pengabdian kita pada masyarakat,” ungkapnya.
Sekadar diketahui pada tahun 2010 ini anggaran untuk Jamas tidak ada perubahan, yakni masih tetap Rp 150 juta per anggota DPRD per tahun. Untuk peruntukannya anggaran jamas ini murni digunakan pembangunan fisik.
Terpisah, anggota DPRD Komisi C Hadi Sucipto berharap, anggaran jamas tidak hany digunakan untuk pembangunan fisik, melainkan juga bisa digunakan diluar itu. “Seperti pelatihan-pelatihan, ataupun non fisik yang lain,” harapnya.
Sementara itu Kabag Humas Pemkot Kediri Nur Muhyar membenarkan jika SK Wali Kota tentang anggaran Jamas belum turun, karena hingga saat ini masih dalam proses. “ Untuk SK yang mengatur jamas masih dalam proses pembahasan, mudah-mudahan dalam bulan ini bisa turun, dan scepat mungkin bisa dimanfaatkan para anggota DPRD,”  ungkapnya.(AK)

Rp 88 M untuk Poltek

Kamis, 21 Januari 2010 | 11:07 WIB
KEDIRI - Pembangunan Kampus Politeknik (Poltek) Kota Kediri II yang rencananya selesai pada 2011, diperkirakan akan menelan biaya Rp 88 miliar. Dana itu rencananya diambilkan dari dana hibah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) secara bertahap.
Pada 2009, untuk pematangan lahan sudah menelan biaya sekitar Rp 2 miliar dan pada 2010 ini Poltek mendapatkan kucuran dana sebesar Rp 11 miliar. “Dana hibah tahun 2009 digunakan untuk pematangan lahan dan juga pengurukan serta pemetaan,” ujar Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Kediri, Budi Siswantoro ditemui di lokasi pembangunan Poltek, Rabu (20/1).
Rencananya, lanjut Budi, jika pendanaannya lancar, ditargetkan bangunan yang menempati area lahan seluas 7,7 hektare tersebut akan selesai pada 2011. “Total biaya keseluruhan diperkirakan sebesar Rp 88 miliar,” katanya.
Kampus Poltek di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto ini nantinya akan dibangun empat set lokal bangunan. Satu area untuk ruang kantor empat lantai, satu set laboratorium tiga lantai, area perkuliahan tiga lantai dan 30 kamar untuk asrama yang juga tiga lantai.
Tahun ini, imbuh Budi, anggaran Rp 11 miliar tersebut akan digunakan untuk pembangunan pondasi dan lanjutan dari pematangan lahan yang belum selesai. Tahun ini, proses pembangunan pondasi dan pemasangan dinding penahanan.
Sementara itu, anggota DPRD Komisi C (Pendidikan, Kesehatan dan Pembangunan), Yudi Ayubchan, membenarkan jika tahun ini pihaknya telah menyetujui anggaran hibah untuk Poltek sebesar Rp 11 miliar. Anggaran tersebut disetujui, karena adanya kesepakatan jika 2011 selesai.
Meski begitu, Ayub meminta kepada PU untuk memberikan jadwal maupun master plannya. Karena, sampai kini pihak eksekutif belum mengetahui semuanya itu. “Dengan adanya jadwal dan master plan, kami bisa ikut mengawasi,” tandasnya.
Sebulan lalu, Ayub menyinggung pembangunan Poltek akan menyedot APBD. Saat itu, proyek pembangunan Poltek yang dikerjakan selama tiga tahun, 2009-2011, dianggarkan Rp 97,3 miliar. Saat itu, Ayub mengusulkan agar pengerjaan proyek multiyears ini tidak tiga tahun, tapi empat tahun. Dengan memperpanjang masa pembangunan, penggunaan anggaran bisa bertahap sampai empat kali sehingga tidak terlalu membebani APBD setiap tahunnya, karena masih banyak proyek lain yang juga perlu didanai. “Kami akan minta untuk dikurangi,” kata Ayup ketika itu. “Kami ingin program lain juga berjalan baik. Tidak ada yang terganggu,” jelas Sekretaris DPC Partai Demokrat Kota Kediri ini. ark

sumber : surabaya post

Rp 1,08 Miliar Untuk Reses DPRD

25 Feb 2010 - 16:33 WIB, dibaca 22 kali
Kediri,m0nTera=Anggaran yang akan digunakan dalam masa reses untuk kalangan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Kota Kediri tahun 2010 ini tidak akan ada kenaikan maupun penurunan dari anggaran sebelumnya. Yakni mencapai Rp 1,08 miliar per tahun.

Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Kediri Yudi Ayubchan, untuk anggaran reses DPRD tidak ada penambahan maupun pengurangan. “Anggarannya tidak ada perubahan, sama seperti tahun lalu,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Ayub ini menjelaskan, rencananya, masa reses anggota DPRD tahun 2010 ini akan dilaksanakan pada minggu pertama bulan Maret. “Jika sesuai jadwal akan dilaksanakan pada Minggu pertama bulan depan,” jelasnya.

Masa reses, dijelaskan pria yang akarab disapa Ayub ini merupakan masa dimana para wakil rakyat libur dari segala aktifitas di kelembagaan DPRD, dan menemui konstituen untuk menampung aspirasi ataupun masukan-masukan. “Masa reses sendiri waktunya selama 1 minggu,” ungkapnya.

Dalam reses sendiri, berdasarkan aturan, harus dihadiri antara 100 hingga 200 konstituen dan wajib mengikut sertakan sekretaris dewan (sekwan). “Lebih baik lagi jika juga menghadirkan pejabat kecamatan maupun kelurahan,” ungkapnya.

Untuk anggarannya, dikatakan Ayub, untuk sekali masa reses, setiap anggota DPRD menerima Rp 12 juta, sementara reses sendiri dalam setahun terdapat 3 kali masa reses. “Jika ditotal dalam setahun masing-masing anggota DPRD menerima anggaran Rp 36 juta per tahunnya,” paparnya

sumber : montera

Hondin Dirumahkan

Selasa, 5 Januari 2010 | 09:03 WIB
KEDIRI - Ratusan tenaga honorer dinas (hondin) yang baru bekerja tiga bulan di beberapa satuan kerja (satker) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri, dirumahkan sejak tahun baru 2010 ini. Salah satu satker yang merumahkan hondin adalah Dinas Perhubungan (Dishub). Dari sekitar 400 hondin di satker ini, sudah lebih 200 orang yang dirumahkan.
Mereka yang diputus hubungan kerjanya (PHK) sebagai tenaga penunjang teknis (TPT) lantaran habis masa kontraknya per 31 Desember lalu. Rata-rata mereka berpendidikan S-1 yang hanya bekerja sebagai juru parkir, pengawas parkir, atau penjaga di Kantor Dishub. Sumber di satker tersebut mengungkapkan bahwa para hondin atau TPT ini direkrut dengan menyetor uang rata-rata Rp 20 juta. “Praktik ini sudah lama. Mereka juga mengantongi SK,” kata sumber tersebut, Senin (4/1).
Mereka mau direkrut karena ada yang meyakinkan bahwa mereka bisa direkrut sebagai tenaga tetap. Bahkan mereka juga percaya suatu saat bisa masuk data base dan bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Kenyataannya, hondin rekrutan baru yang baru bekerja antara tiga sampai enam bulan, sudah dirumahkan. Sedangkan hondin lama yang sudah bekerja lebih setahun masih dipekerjakan meski belum ada kejelasan nasib.
“Rata-rata yang masuk hondin membayar semua. Saya sudah setahun bekerja dan sekarang belum ada tanda-tanda diperpanjang. Bahkan, Januari ini saya juga belum gajian,” kata salah satu hondin yang namanya tidak mau dikorankan.
Hondin lama dan baru besaran gajinya tidak sama. Hondin lama dengan SK ditandatangani Sekda dan Kepala Dinas, gajinya Rp 400.000 per bulan. Sedangkan hondin rekrutan baru sekitar September 2009 lalu ber-SK Kepala Dinas dan bergaji Rp 350.000 per bulan.
Kepala Dishub Kota Kediri, Achmad Sudradjad, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya harus mengambil langkah frontal. “Kami terpaksa memangkas tenaga penunjang teknis ini karena tidak ada  lagi anggaran,” jelasnya.
Dalam pengajuan anggaran Dishub 2010 yang mencapai Rp 6 miliar, salah satunya untuk menggaji hondin. Biasanya kebutuhan untuk menggaji hondin itu dimasukkan dalam mata anggaran jasa. Saat ini anggaran sudah sampai di gubernur.
Saat dikonfirmasi mengenai praktik rekrutmen yang harus menyetor uang Rp 20 juta, Sudradjad menyatakan bahwa itu hanya rumor. “Tidak mungkinlah ada tarikan itu. Saya tidak ada kaitannya dengan ini. Kalau ada, korban suruh melapor ke saya dan yang menarik uang akan saya pecat,” tegasnya.
Sesuai aturan, tiap satker dibenarkan untuk merekrut hondin. Namun, penambahan tenaga ini harus disetujui walikota . Namun, beberapa waktu lalu, Walikota Samsul Ashar saat dikonfirmasi mengaku tidak tahu soal hondin di beberapa satker. “Setahu saya, boleh asal kebutuhannya mendesak. Misalnya, dibutuhkan dokter ahli,” kata Samsul.
Di DPRD Kota Kediri, telah berkembang pembahasan mengenai pengadaan TPT tersebut. Selain Dishub, satker lain seperti Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH), Disperindag, dan Dinas Perijinan juga melakukan hal sama. Tapi, yang diizinkan dewan hanya lima orang.
“Perekrutan itu tidak menyalahi aturan. Hanya menjadi bermasalah kalau ternyata rekrutmennya sampai melebihi seratus,” kata Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kota Kediri, Yudi Ayubchan. ark

sumber : surabaya post

Mondin Lama untuk Fraksi

2010-01-06 
KEDIRI – Belasan mobil dinas (mobdin) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kediri periode 2004 – 2009, sempat berhembus kabar akan dilakukan dem-deman oleh dewan lama. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan, kalangan dewan periode 2009-2014 berharap, agar mobdin tersebut diserahkan untuk masing-masing fraksi DPRD.

Sumber di kalangan wakil rakyat mengatakan, daripada mobdin tersebut tidak digunakan, alangkah bijaknya jika untuk sementara waktu dijadikan kendaraan operasional masing-masing fraksi. “Daripada tidak digunakan, mending untuk teman-teman ketua fraksi saja,” katanya.

Sekadar diketahui 11 mobdin tersebut dulu dipakai oleh Ketua DPRD, Bambang Harianto berupa sedan Toyota Altis, wakil ketua DPRD, Arifin Asror dan Sujud Kendar masing-masing berupa Kijang LX. Sementara untuk masing-masing ketua komisi dan fraksi, yakni Heru Ansori, Muzaini Romli, Antonius Rahman, Joko Supriyanto, Muhaimin, Gatot Adi Prayuga, Yudhi Ayubchan dan Nuruddin Hasan mendapatkan Suzuki Carry.

Sementara itu, salah seorang anggota dewan yang juga sempat membawa mobdin berupa Suzuki Carry menanggapi hal ini mengatakan, kalau dikasih fraksi juga tidak apa-apa. “Semua juga baik, dikasihkan ke fraksi lagi atau didem, semua itu kami serahkan ke eksekutif,” kata ketua fraksi Demokrat DPRD Kota Kediri, Yudi Ayubchan, Selasa (5/1).

Menanggapi kabar tersebut, Kabag Humas Pemkot Kediri, Nur Muhyar mengatakan masih melakukan koordinasi dengan pihak dinas pendapatan pengelolaan keuangan dan asset (DPPKA) selaku pengelola. “Kalau masalah ini kami koordinasikan dulu dengan DPPKA ataupun Wali Kota,” ujarnya.

Saat ini, dikatakan Nur Muhyar, sebelas Mobdin tersebut masih berada di kantor DPPKA, dan salah satunya masih dipinjam kepala Satpol PP Moch. Kosim. “Semua mobil tersebut masih berada di kantor DPPKA,” ungkapnya.

Lantas sejauh mana proses dari dem-deman yang dulu sempat berembus kabar?, Nur Muhyar mengatakan, prosesnya masih terus berlanjut, hasilnya seperti apa dia juga belum tahu. “Beberapa hari lagi juga masih dilakukan pembahasan lagi terkait mobdin ini,” ungkapnya.
 
sumber : surabaya pagi

Mobdin DPRD Rp 1,4 M

Kamis, 31 Desember 2009 | 11:03 WIB
Kediri – Di penghujung tahun, Pemkot Kediri membeli 3 unit mobil Izuzu Elf untuk mendukung kinerja DPRD setempat. Sebelumnya, juga membeli mobil dinas (mobdin) untuk ketua DPRD dan dua wakilnya dengan total anggaran Rp 1,4 miliar.
Pembelian tiga mobil Isuzu Elf  bergelombang. Terakhir dua unit yang tiba di kantor DPRD Kediri, Rabu (30/12) kemarin, diperuntukan operasional masing-masing komisi. “Kendaraan itu untuk operasional masing-masingg komisi, jika ada agenda kunjungan kerja atau  inspeksi mendadak (sidak),” kata Yudi Ayubchan, anggota DPRD Kota Kediri, Kamis (31/12) pagi tadi.
Dikatakan, dengan tibanya tiga mobil Isuzu Elf ini maka tak perlu lagi ada pembelian mobdin untuk mendukung kinerja legislatif. Sehingga dalam pembahasan RAPBD 2010, tidak perlu ada anggaran untuk kendaraan operasional masing-masing fraksi.
Sementara itu, Ketua Fraksi PAN, Kolifi Yunon berharap dalam PAK APBD 2010 muncul anggaran membeli kendaraan untuk ketua fraksi. “Ya mudah-mudahan dalam PAK nanti dianggarkan. Mobil yang ada sekarang kan untuk kinerja komisi,” ujarnya.
Menurutnya, kendaraan operasional masing sangat diperlukan untuk menunjang kinerja legislatif. “Sebenarnya kendaraan untuk fraksi juga perlu. Agenda fraksi kan juga banyak,” ungkapnya.
Kepala Bagian Humas Pemkot Kediri, Nur Muhyar menjelaskan anggaran Rp 1,4 miliar memang dialokasikan untuk membeli mobdin DPRD. Di antaranya mobdin Ketua DPRD Wara S. Renny Pramana (Toyota Camry), dan dua wakilnya, yakni Nuruddin Hasan dan Sholahuddin Fathurrohman,--masing-masing mobil Toyota Avanza. Selain itu untuk membeli tiga kendaraan Isuzu Elf untuk operasional komisi DPRD setempat.

sumber : surabaya post

Rabu, 24 Februari 2010